Sabtu, 31 Maret 2012

porseni 2011 way jepara kmhdi pc metro


PORSENI DAN UTSAWA DHARMA GITA
ACARA RUTIN DESA BRAJA HARJO SARI KECAMATAN WAY JEPARA LAMPUNG TIMUR
desa braja asri kecamatan way jepara telah mengadakan program rutin dua ahun sekali yaitu porseni dan utsawa dharma gita sekecamatan way jepara lampung timur pada tanggal 27 s/d 29 juni 2011 dengan peserta yang mengikuti lomba ini berjumlah 7 kontingen mewakili 7 desa di kecamatan way jepara. Acara ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga hari dengan melombakan 25 cabang perlombaan yakni dalam cabang olahraga seperti tenis meja, bola voly, catur dll, sedangkan dalam bidang agama sendiri yakni lomba kidung, dharma wacana, palawakya dll. Masing masing cabang perlombaan diikuti oleh masing-masing peserta kontingen yang berasal dari kecamatan way jepara bertempat di bale banjar desa braja asri. Kegiatan ini diselengarakan atas partisipasi masyarakat hindu sekecamatan way jepara.
Dalam acara pembukaan hadir ketua parisadha kabupaten lampung timur I Ketut Rineh, Ka kecamatan way jepara bapak Edi Arnowo, Ka kelurahan banjar asri Bapak Muhamad Yakir. Anggaran biaya dalam penyelenggaraan acara ini diperkirakan berjumlah 15 juta rupiah berasal dari dana Kas Desa banjar Asri dan sebagian dari donatur. Pada awal Pembukaan diawali dengan sambutan-sambutan dari tokoh masyarakat dan dimeriahkan oleh tari bedana dan tari Pendet. Ketua panitia Ida Bagus Arnawe mengatakan bahwa acara ini dilaksanakan tidak twerlepas dari dukungan semua Pihak yang telah berpartisipasi dalam acara ini, maka ketua panitia memilih tema “ melalui Porseni dan Utsawa Dharma Gita Tingkat Kecamatan ke –VIII Tahun 2011 Kita Tingkatkan Persatuan Umat dan Penerapan Nilai-nilai Pengetahuan susastra Suci Weda Secara Seimbang selaras dan harmonis”. Menurut Arnawe Tujuan Acara ini lebih untuk mensosialisaikan dan memantapkan kidung-kidung keagamaan agar bisa menjadi motivasi aktualitas untuk melestarikan tradisi budaya umat hindu. Dalam sambutannya ketua parisadha kabupaten lampung timur yang sekaligus membuka acara secara resmi mengatakan bahwa kegiatan utsawa dharma gita ini merupakan perwujudan peningkatan kulalitas kehidupan beragama, yang penting adalah dharma gita yang berperan menumbuhkan budi pekerti luhur, bahwa untuk mengarungi samudra zaman kali ini yang penuh tantangan dan hambatan ini dapat ditempuh melalui kesusilaan budi yang dapat dipraktekkan dengan cara membaca dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam dharma gita, karena dalam dharma gita merupakan nyanyian suci keagamaan yang diciptaka n berdasarkan rasa. Selama ini kegiatan semacam ini sudah sangat jarang sekali diadakan mengingat pada zaman era serba modern umat hindu dihadapkan dengan tantangan yang semakin berat akan rasa kepedulian terhadap tradisi budaya yang semakin menipis. I Ketut Rineh Mengajak agar kegiatan ini dapat berjalan tidak hanya sampai disini saja, Namun Harus Menjadi Inspirasi bagi umat hindu dimanapun berada agar kelakgenerasi muda umat hindu tidak kehilangan jati dirihadir juga dalam acara ini empat mahasiswa diantaranya Made Waisnawa (STAH), I Gusti Desak Artini (UM), IB dewo (STAH), dan I Nyoman Edi sutrisno (UM). Mereka turut berpartisipasi dalam bakti sosial membantu jalannya kegiatan acara ini.nampak begitu antusiasnya dan perhatian peserta lomba dan masyarakat yang ingin jalannya perlombaan.




Penulis : I Nyoman edi sutrisno
Seorang mahasiswa di universitas muhamadiyah metro, Lampung

Kamis, 01 Maret 2012

skripsi bab 2





BAB II
LANDASAN TEORI


A.    Pengertian Pengaruh
                  Ngatenan (1986:137) dalam bukunya Kamus Etimologi Bahasa Indonesia mengatakan bahwa  pengaruh  sama dengan tuah, berkah, dan  wibawa. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa esensi yang dimiliki oleh sesuatu hal tertentu atau seseorang dapat memberi pengaruh terhadap sesuatu  atau orang lain. Wibawa dan berkah yang dimiliki oleh seseorang akan memiliki pengaruh terhadap orang lain. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga dikatakan bahwa: “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.     
B.     Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari akar kata motif, yang artinya sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak untuk melakukan sesuatu (Ngalim Purwanto,1985: 64). Pengertian lain tentang motivasi adalah tenaga dari dalam diri manusia yang mendorong bertindak, suatu proses yang berlangsung dari dalam diri seseorang (I.L.Pasaribu dan B. Simanjuntak,1983 : 52). Motivasi adalah sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktip pada saat-saat tertentu
terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau
mendesak ( Sardiman, A.M, 1986: 73).
Dari definisi di atas dapat penulis simpulkan bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu hal untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan adanya motivasi akan menyebabkan terjadinya perubahan kejiwaan, perasaan dan juga emosi untuk kemudian bertindak melakukan sesuatu yang didorong oleh suatu kesadaran akan adanya kebutuhan atau keinginan dan tujuan yang hendak dicapai. 
  1. Macam-Macam Motivasi
            Pada umumnya para ahli membagi motivasi menjadi dua bagian
yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik yaitu kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar
itu misalnya siswa belajar karena ingin menjadi orang terdidik atau ingin menjadi ahli dibidang studi tertentu. Motivasi ekstrinsik yaitu aktivitas
belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri seperti
siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan (W.S.Winkel, 1983:27-28). Pendapat lain menyatakan motivasi murni apabila terdapat  dorongan yang sangat kuat terhadap hasil belajar itu sendiri motivasi kurang murni atau motivasi lahir apabila motivasi belajar itu bersumber pada soal ganjaran atau hukuman atau ketakutan (Siti Purtini,1979: 32). Dari beberapa pendapat diatas jelaslah bahwa yang dimaksud
dengan motivasi adalah bentuk motivasi yang di dalam aktivitasnya secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Orang yang bermotivasi intrinsik mempunyai tujuan menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan ahli dalam bidang tertentu dan lain sebagainya.
            Sedangkan pada motivasi ekstrinsik adalah bentuk motivasi dalam aktivitas belajar yang dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan yang tidak berkaitan dengan aktivitas belajar karena motivasi ekstrinsik
tergolong atas dasar belajar demi memenuhi kewajiban, demi menghindari hukuman, demi memperoleh hadiah, belajar demi guru, atau orang tua, demi kedudukan dan lain sebagainya.Siswa yang bermotivasi ekstrinsik mempunyai tujuan berbeda dengan siswa yang bermotivasi intrinsik. Akan tetapi bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini selalu tidak baik,dalam kegiatan belajar motivasi ekstrinsik ini tetap penting sebabkemungkinan besar keadaan siswa dinamis, artinya dapat berubah-ubahsehingga bisa ditumbuhkan kesadaran yang ada pada ahirnya tumbuh menjadi motivasi intrinsik.
Dari kedua motivasi di atas maka motivasi intrinsik mempunyai pengaruh yang baik dalam belajar karena motivasi ini merupakan tenaga
dari dalam yang mendorong individu belajar sehingga mempunyai arah
dan tujuan yang jelas. Beberapa ahli menyatakan aktivitas yang didorong
oleh motivasi intrinsik lebih baik daripada motivasi ekstrinsik. Diperkuat pula oleh pendapat W.P. Napi Tupulu, belajar dengan motivasi intrinsik akan lebih baik daripada belajar dengan motivasi ekstrinsik (W.P.Napitupulu, 1980 : 14).
Dengan demikian motivasi intrinsik dalam belajar yang
menggerakan itu bersumber pada suatu kebutuhan yang berisikan
keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi motivasi intrinsik ini muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan tertentu.
  1. Fungsi motivasi
Didalam kegiatan belajar motivasi itu sangat diperlukan, karena dengan adanya motivasi tersebut maka anak akan ingin dan mau melakukan kegiatan belajar, yang pada akhirnya turut menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. Beberapa tokoh menyatakan fungsi motivasi sebagai berikut:
a.       Motivasi berfungsi sebagai penggerak dan pendorong berlangsungnya proses belajar.
b.      Motivasi berfungsi sebagai penggerak kegiatan, sehingga proses belajar itu bermakna dan dilaksanakan secara berkelanjutan.
c.       Motivasi berfungsi memberikan tekanan atau membuat warga belajar
itu lebih selektif didalam menjalankan proses belajar yang disenangi (W.P.Napitupulu, 1981;13).
Menurut S. Nasution fungsi motivasi adalah sebagai berikut :
a.       Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan  energi.


b.      Menentukan arah perbuatan, yaitu menentukan perbuatan yang mana harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan (S,Nasution, 1986: 76).
Pendapat lain juga menyatakan motivasi dalam diri setiap individu mempunyai fungsi antara lain:
a.       Menentukan arah perbuatan yakni perwujudan cita-cita atau suatu
tujuan.
b.      Motivasi menyeleksi perbuatan kita. Artinya menentukam perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, guna serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tak bermanpaat.
c.       Berfungsi mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak sebagai penggerak  atau sebagai motor yang memberi energi kepada seseorang untk melakukan tugas (Ngalim Purwanto, 1985 : 76-77)
Sedangkan Robert N.Singer menyatakan ‘In the first instanemotivational
in proses responsible for the selection of and participation in a particular activity over other pasibble alternative at anymoment
. Artinya pada hari pertama kekuatan motivasi bertanggung jawab untuk memelihara keikutsertaan dalam suatu aktifitas tertentu di samping alternatip lain yang memungkinkan pada suatu masalah. Dari pendapat di atas dapat penulis menyimpulkan bahwa fungsi motivasi dalam suatu bentuk kegiatan adalah sebagai pendorong, penggerak, yang memberikan arah bagi setiap individu untuk melakukan kegiatan, dan kususnya bagi siswa siswi kelas V dan VI SD Negeri I Restu Rahayu guna mencapai prestasi belajar yang lebih baik.
C.    Hasil Belajar
1.      Pengertian Hasil Belajar
Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku. Setelah anak lahir terjadi proses belajar pada diri sang anak dan hasil yang diperoleh adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Belajar adalah suatu kebutuhan yang mutlak bagi setiap orang, dan apa yang kita lakukan di dunia ini membutuhkan suatu pengetahuan dan pengetahuan itu kita dapatkan dengan belajar. Hasil belajar mempunyai kaitan erat dengan belajar itu sendiri, untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada diri seseorang baik itu tingkah laku, kecakapan yang dapat dilihat dari hasil belajarnya. Hasil belajar adalah tingkat pengetahuan sejauh mana anak terhadap materi yang diterima, dalam pengertian ini belajar adalah merupakan proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Dengan variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa (Slameto, 2003 : 96).
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam
diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara tingkah laku yang baru
berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku itu ada dari tidak tahu,
timbul pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan ketrampilan, emosional dan perubahan jasmani. Menurut Winkel ( 2004 : 114) ada beberapa kategori penilaian terhadap hasil belajar siswa.
a.       ( 0-30) dikategorikan sangat rendah.
b.      (31-54) dikategorikan rendah.
c.       ( 55-74) dikategorikan sedang.
d.      ( 75-89) dikategorikan tinggi.
e.       ( 99-100) dikategorikan sangat tinggi.
Dari beberapa pengertian belajar diatas jelas bahwa dalam proses belajar terjadi perubahan pada diri seseorang. Dari proses belajar ini diharapkan terjadinya perubahan yang baik dan mencapai tujuan yang diharapkan dari setiap orang dan menunjukan peningkatan pengetahuan dalam benuk prestasi belajar. Prestasi belajar ini sangat perpengaruh bagi siswa dan guru yang memberikan pengetahuan. Bagi siswa adanya prestasi ini akan menunjukan seberapa materi-materi yang telah mampu dikuasai
oleh siswa. Dan bagi pendidik adanya peningkatan prestasi pada anak didiknya akan membuat rasa bangga dan sistem pengajaran yang diterapkan dalam preoses belajar mengajar berhasil. Antara prestasi belajar dan hasil belajar mempunyai pengertian yang sama karena keduanya sama-sama untuk mengetahui peningkatan belajar siswa. Prestasi belajar dari setiap siswa dapat diketahui dengan cara melakukan evaluasi yang dilakukan olehguru tergantung dari mata pelajaran yang diujikan sesuai dengan satuan kurikulum.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai anak itu dapat dilihat oleh guru ( Soepartina Pakasi, 1981: 52). Untuk mengetahui peningkatan atau prestasi dari siswa dapat melalui raport.  Dengan melihat nilai yang diperoleh setiap anak dalam setiap semester seorang guru dapat mengetahui siswa-siswa yang mengalami peningkatan dan penurunan hasil prestasi belajar. Dari hasil nilai raport yang diperoleh siswa guru dapat memberikan motivasi-
motivasi baru kepada siswa.
2.      Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar adalah merupakan azas-azas belajar yang
perlu menjadi tuntunan dalam belajar. Dengan mengetahui prinsip belajar akan menumbuhkan semangat dan tehnik baru dalam proses belajar mengajar. Para ahli mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai prinsip-prinsip belajar, beberapa pandangan para ahli mengenai prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut :
a.       Belajar harus bertujuan dan terarah.
b.      Belajar memerlukan bimbingan, baik bimbingan dari guru atau mata pelajaran itu sendiri.
c.       Belajar memerlukan pemahaman.
d.      Belajar memerlukan latihan dan ujian agar apa yang telah dipelajari
dapat dikuasai.
e.       Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi saling mempengaruhi
dari murid  dengan lingkungan.
f.       Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk
mencapai tujuan.
g.      Belajar diangap berhasil apabila telah menerapkan kedalam praktik sehari-hari ( Dewa Ketut Sukardi, 1983 : 27).


Pendapat lain menyatakan tentang prinsi-prinsip belajar sebagai berikut :
a.       Belajar adalah suatu proses aktip dimana terjadi hubungan saling memengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungannya.
b.      Belajar senantiasa harus mempunyai arah dan tujuan.
c.        Belajar yang paling efektip jika didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan   bersumber dari dalam dirinya.
d.      Belajar memerlukan bimbingan.
e.       Jenis belajar yang paling baik adalah adalah belajar berfikir kritis.
f.       Senantiasa ada rintangan dan hambatan dalam belajar karena itu setiap siswa harus sanggup mengatasinya.
g.      Cara belajar yang paling epektif adalah dalam bentuk pemecahan
masalah melalui kerja kelompok.
h.      Belajar dianggap berhasil jika sipelajar telah sanggup mentransper atau menerapkan kedalam bidang kehidupan sehari-hari.
i.        Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan kuat untuk mencapai tujuan  atau hasil.
j.        Belajar memerlukan latihan-latihan dan ulangan agar apa yang
dipelajari dapat dikuasai (Oemar Hamalik, 1993 : 28).
Menurut S. Nasution mengungkapkan prinsp-prinsip belajar  sebagai berikut :
a.       Agar seseorang benar-benar mempunyai tujuan.
b.      Tujuan itu timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya
dan bukan  karena dipaksa orang lain.
c.        Orang itu harus bersedia mendalami bermacam-macam kesukaran dan berusaha   dengan tekun tujuan yang berharga untuk dirinya.
d.      Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuan.
e.       Tujuan pokok yang hendak dicapai diperoleh melalui hasil sambilan
atau sampingan.
f.       Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
g.      Belajar sebagai keseluruhan tidak dengan otaknya atau secara  intelektualitas saja tetapi juga secara sosial, emosional dan sebagainya.
h.      Dalam hal belajar seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
i.        Dalam belajar diperlukan insting, apa yang dipelajari benar-benar   dipahami. Belajar  bukan sekedar menghapal secara verbal.
j.        Belajar lebih berhasil apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
k.      Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar (Nasution,1986:49).
Dari prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas ada persamaan pandangan dalam mendapatkan pengetahuan yaitu dengan adanya kemauan dari dalam diri setiap individu dalam memperoleh pengetahuan. Tujuan dalam belajar ini dapat diperoleh dengan adanya motivasi belajar dari setiap siswa, dorongan- dorongan keinginan belajar
dan adanya rasa penasaran akan luasnya pengetahuan yang dipelajari di sekolah maka akan tercapai tujuan belajar dan dapat mengaplikasikan
ilmu-ilmu yang diperoleh di sekolah dalam kehidupan sehari-hari.
a.            Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Dalam setiap anak mengenyam pendidikan di sekolah-
sekolah pasti ingin mencapai hasil belajar yang optimal. Dalam setiap kelas atau sekolah siswa ingin mencapai hasil belajar dengan nilai yang baik, mendapat prestasi yang tinggi dalam setiap sekolah ataupun perguruan tinggi adalah tujuan dari setiap siswa. Namun tidak semua siswa dapat memperoleh nilai yang baik dalam setiap kelas atau sekolah. Siswa yang gagal dalam mencapai prestasi yang baik yang
pada umumnya orang-orang menyebut dengan tidak naik kelas jelas akan merugikan terutama bagi siswa yang mengikuti proses belajar mengajar di suatu sekolah. Para ahli membagi faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menjadi dua yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Sedangkan faktor intern adalah faktor yang ada di dalam dalam diri seseorang. Kedua faktor di atas dapat mempengaruhi sistem belajar seorang anak. Selain dapat mendorong motivasi belajar anak juga
dapat menghambat keberhasilan belajar seorang anak. Menurut (Ngalim Purwanto 1985:101-102) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar bagi seorang anak yaitu faktor yang ada pada diri seorang itu sendiri yang disebut faktor individual, seperti faktor kematangan dan pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial seperti keluarga / keadaan rumah tangga, guru, dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan, dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
Pendapat lain menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut :
1. Faktor intern yang terbagi menjadi
a). Faktor jasmani
- Faktor kesehatan
- Cacat tubuh
b). Faktor fsikologis
- Intelegensi
- Minat
- Perhatian
- Bakat
- Motif
- Kematangan
- Kesiapan
 c). Faktor kelelahan
2. Faktor ekstern yang terbagi atas
a). Faktor keluarga
- Cara orang tua mendidik anak
- Relasi antara keluarga
- Suasana rumah
- Keadaan ekonomi keluarga
- Pengertian keluarga
- Latar belakang kebudayaan
b). Faktor sekolah
- Metode mengajar
- Kurikulum
- Relasi guru dan siswa
- Relasi siswa dan siswa
- Disiplin di sekolah
- Alat pelajaran
- Waktu sekolah
- Standar pelajaran diatas ukuran
- Keadaan gedung
- Tugas rumah
c). Faktor masyarakat
-Kegiatan siswa dalam masyarakat
-Teman bergaul
-Bentuk kehidupan masyarakat
 (Slameto, 1988 : 56-73).
Sedangkan menurut Roestiyah N.K faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa sebagai berikut:
1. Faktor yang berasal dari sekolah
- Interaksi guru dan murid
- Cara penyajian
- Hubungan antara murid
- Standar pelajaran diatas ukuran
- Media pendidikan
- Kurikulum
- Keadaan gedung
- Waktu sekolah
- Pelaksanaan disiplin
- Metode belajar
- Tugas rumah
2. Faktor yang berasal dari masyarakat
- Teman bergaul
- Cara hidup lingkungan
- Kegiatan lain
3. Faktor yang berasal dari keluarga
- Cara mendidik
- Suasana keluarga
- Pengertian orang tua
- Keadaan sosial ekonomi keluarga
Faktor yang ada dalam diri sang anak jika ditopang oleh
faktor dari luar yang tentunya faktor positip dan ini akan membantu hasil belajar yang baik. Kriteria hasil belajar suatu satuan nilai yang menjadi ukuran untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa
terhadap hasil belajar dan kriteria ini biasanya didasarkan dengan standar atau ukuran yang ada. Jika siswa sudah dikatakan berhasil dalam belajar dan siswa terswebut sudah memperoleh standar nilai
yang tinggi berdasarkan standar nilai yang ditetapkan oleh guru yang bersangkutan maupun standar yang telah ditetapkan.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan pada
umumnya faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa ada dua faktor yaitu faktor eksteren dan faktor intern. Antara dua faktor ini saling terkait dan mempengaruhi proses dari hasil belajar siswa.
Faktor yang ada dalam diri sang anak jika ditopang oleh faktor dari
luar yang tentunya faktor positip dan ini akan membantu hasil belajar yang baik. Faktor- faktor tersebut antara lain sebagai berikut :
a)      Faktor intern
Yaitu faktor dari dalam diri seorang anak yang mencakup
faktor kesehatan (biologis) dan fator psikologis (faktor cacat
tubuh). Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya terganggu. Adanya cacat tubuh yang diderita oleh siswa akan mempengaruhi belajar siswa. Anak akan merasa minder dengan teman-temannya dalam belajar di kelas. Bagi pendidik ini merupakan tantangan besar dalam membuat motivasi belajar bagi anak yang cacat fisik ini agar dalam belajar dapat memperoleh hasil belajar yang baik.

b). Faktor ekstern yaitu faktor luar dari anak yang mencakup sebagai    berikut:
1. Faktor keluarga
Keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam
proses belajar anak seperti yang dikatakan oleh Sutjipto Wirojojo bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama. Dalam keluarga seorang anak mendapatkan pendidikan pertamanya,
dalam keluarga seorang anak mendapatkan pengaruh dari
keluarga dari cara orang tua dalam mendidik anak, keadaan ekonomi keluarga dan lain-lain.              
2. Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar siswa yaitu metode belajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran di sekolah. Metode mengajar guru di kelas yang tidak sesuai dengan mata pelajaran akan mempengaruhi hasl belajar siswa. Maka para pendidik
harus menggunakan methode yang bervariasi dan tepat dalam memberikan materi pelajaran, sehinga bisa meningkatkan
motivasi belajar siswa. Adanya relasi yang baik antara guru dan siswa maka dalam kelas siswa akan menyukai mata pelajaran
yang diberikan. 


3.   Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga mempunyai pengaruh yang besar bagi seorang anak. Kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh media, interaksi sosial dan kehidupan masyarakat sekitar sebagai tempat tinggal siswa sangat
berpengaruh bagi belajar siswa. Lingkungan masyarakat yang
baik akan memberikan contoh yang baik terhadap anak.
b.            Pentingnya motivasi dalam belajar
Motivasi sebagai suatu dorongan, alasan kemauan yang menyebabkan kita bertindak dan diarahkan kepada tujuan tertentu
yang ingin dicapai. Motivasi selain sebagai pendorong manusia
untuk berbuat dan menentukan arah perbuatan kita pada tujuan yang hendak kita capai. Dengan adanya motivasi dalam proses belajar mengajar diharapkan akan memberikan hasil belajar yang
memuaskan bagi siswa. Dalam kehidupan nyata  kita menemukan orang-orang dengan kemampuannya (ability) namun tidak mampu mengerjakan suatu pekerjaan, bukan berarti seseorang tidak mampu dalam mengerjakan suatu pekerjaan namun karena tidak adanya motivasi dalam dirinya. Motivasi yang kurang kuat dari dalam diri seseorang akan menyebabkan kurangnya dorongan, kemauan, sehingga tidak ada hasil pekerjaan (kecakapan nyata). Kita berbuat sesuatu karena adanya motif tertentu yang ada dalam diri untuk mencapai tujuan tertentu. Anak yang intelegensinya tinggi mungkin gagal dalam pelajarannya karena kekurangan motivasi (S.Nasution,  1986; 79 ). Jadi motivasi merupakan dinamika dalam diri individu, merupakan pendorong, sehingga dengan demikian motivasi merupakan faktor penting dalam kehidupan termasuk dalam pendidikan dan pengajaran.
            c.    Motivasi belajar siswa terhadap pendidikan Agama Hindu
Belajar dan motivasi selalu mendapat perhatian khusus bagi mereka yang belajar. Dalam kehidupan sehari hari dijumpai orang dengan penuh antusias dan ketekunan melakukan berbagai kegiatan belajar, sedang dipihak lain ada  yang tidak bergairah dan bermalas malasan. Kenyataan tersebut tentu mempunyai sebab-sebab yang
perlu diketahui lebih lanjut untuk kepentingan motivasi belajar. Pada motivasi intrinsic anak belajar karena belajar itu sendiri cukup bermakna baginya. Tujuan yang ingin dicapai  terletak dalam perbuatan belajar itu sendiri, yaitu menambah pengetahuan, keterampilan dan lain-lain. Sedangkan pada motivasi ekstrinsik anak belajar, bukan karena belajar itu berarti  baginya melainkan mengharap  sesuatu dibalik kegiatan belajar itu seperti  halnya yang baik, hadiah atau menghindari hukuman.  Tujuan yang dicapai  terletak diluar perbuatan belajar. Contoh pada motivasi intrinsik  seperti anak mempelajari sembahyang karena ingin tahu dan trampil melaksanakannya. Sedangkan pada motivasi ekstrinsik ia belajar karena  ingin dipuji atau takut dimarahi.
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa siswa belajar pendidikan Agama Hindu adalah umumnya mempunyai motivasi intrinsik yaitu belajar pendidikan agama karena kesadaran siswa itu sendiri disamping ingin tahu pelajaran agama dan juga
ingin menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Teori Motivasi belajar
Menurut teori Abraham H. Maslow (Teori Humanistik), motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah persepsi seseorang mengenai diri sendiri, harga diri, harapan pribadi kebutuhaan, keinginan, kepuasan kerja dan prestasi kerja yang dihasilkan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja dimana seseorang bergabung, organisasi tempat bekerja, situasi lingkungan pada umumnya dan  sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya. Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai tujuh enam atau hierarki kebutuhan, yaitu :
1)      kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex
2)      kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
3)      kebutuhan social (social needs) yaitu kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok dan menjalin hubungan dengan orang lain. Di dalam kebutuhan sosial ini terdapat kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
4)      kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status, seseorang harus berprestasi, menjadi kompeten, serta mendapat pengakuan sebagai orang yang berprestasi dan kompeten untuk dapat dihargai
5)      kebutuhan intelektual (intellectual needs) terdapat didalamnya adalah individu memperoleh pemahaman dan pengetahuan
6)      kebutuhan estetis (aesthetic needs), setelah mencapai tingkatan intelektual tertentu, maka individu akan memikirkan tentang kebutuhan akan keindahan, kerapian, serta keseimbangan
7)      aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata agar dapat menemukan pemenuhan pribadi dan mencapai potensi diri.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual. Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua, dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang. Maslow menggambarkan manusia yang sudah mengaktualisasikan diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan melakukan apapun yang bisa mereka lakukan, dengan mengidentifikasikan 15 ciri orang yang telah mengaktualisasikan diri sebagai berikut:
1.      Memiliki persepsi akurat tentang realitas.
2.      Menikmati pengalaman baru.
3.      Memiliki kecenderungan untuk mencapai pengalaman puncak.
4.      Memiliki standar moral yang jelas.
5.      Memiliki selera humor.
6.      Merasa bersaudara dengan semua manusia.
7.      Memiliki hubungan pertemanan yang erat.
8.      Bersikap demokratis dalam menerima orang lain.
9.      Membutuhkan privasi.
10.  Bebas dari budaya dan lingkungan.
11.  Kreatif.
12.  Spontan.
13.  Lebih berpusat pada permasalahan, bukan pada diri sendiri.
14.  Mengakui sifat dasar manusia.
15.  Tidak selalu ingin menyamakan diri dengan orang lain.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a.       Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik, pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b.      Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c.       Saingan/kompetisi, guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d.      Pujian, sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e.       Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
f.       Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
g.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
h.      Menggunakan metode yang bervariasi,menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak didiknya. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi.
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (stundent center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah sebagai berikut :
a.       Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
b.      Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat: jelas, jujur dan positif.
c.       Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
d.      Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.
e.       Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
f.       Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
g.      Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
h.      Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Kelebihan Teori Belajar Humanistik
a.       Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.
b.      Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
c.       Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku.
Kekurangan Teori Belajar Humanistik
a.       Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
b.      Siswa yang tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.